Saturday, June 29, 2013

BENTUKAN ASAL DENUDASIONAL

Hasil pengerjaan dan proses utama pada lapisan utama kerak bumi akan meninggalkan kenampakan bentuk lahan tertentu disetiap roman muka bumi ini . Kedua proses ini adalah proses endogen (berasal dari dalam) dan proses eksogen (berasal dari luar). Perbedaan intensitas, kecepatan jenis dan lamanya salah satu atau kedua proses tersebut yang bekerja pada suatu daerah menyebabkan kenmapakan bentuk lahan disuatu daerah dengan daerah lain umumnya berbeda. Dilihat dari genesisnya (kontrol utama pembentuknya ), bentuk lahan dapat dibedakan menjadi
1.      Bentuk asal struktural
2.      Bentuk asal vulkanik
3.      Bentuk asal fluvial
4.      Bentuk asal marine
5.      Bentuk asal pelarutan karst
6.      Bentuk asal aeolen & glasial
7.      Bentuk asal denudasional 

Definisi Bentukan Asal Denudasional

Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga denudasi berarti proses penelanjangan permukaan bumi. Bentuk lahan asal denudasional dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk lahan yang terjadi akibat proses-proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass wating) dan proses pengendapan yang terjadi karena agradasi atau degradasi (Herlambang, Sudarno. 2004:42). Proses degradasi cenderung menyebabkan penurunan permukaan bumi, sedangkan agradasi menyebabkan kenaikan permukaan bumi. Ciri-ciri dari bentuk lahan yang asal terjadi secara denudasioanal, yaitu:
  1. Relief sangat jelas: lembah, lereng, pola aliran sungai.
  2. Tidak ada gejala struktural, batuan massif, dep/strike tertutup.
  3. Dapat dibedakan dengan jelas terhadap bentuk lain
  4. Relief lokal, pola aliran dan kerapatan aliran menjadi dasar utama untuk merinci satuan bentuk lahan
  5. Litologi menjadi dasar pembeda kedua untuk merinci satuan bentuk lahan. Litologi terasosiasi dengan bukit, kerapatan aliran,dan tipe proses.
Proses Terbentuknya Bentuk Lahan Asal Denudasional

Denudasi meliputi proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass wating) dan proses pengendapan/sedimentasi.
1. Pelapukan
Pelapukan (weathering) dari perkataan weather dalam bahasa Inggris yang berarti cuaca, sehingga pelapukan batuan adalah proses yang berhubungan dengan perubahan sifat (fisis dan kimia) batuan di permukaan bumi oleh pengaruh cuaca. Secara umum, pelapukan diartikan sebagai proses hancurnya massa batuan oleh tenaga Eksogen, menurut Olliver(1963) pelapukan adalah proses penyesaian kimia, mineral dan sifat fisik batuan terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Akibat dari proses ini pada batuan terjadi perubahan warna, misalnya kuning-coklat pada bagian luar dari suatu bongkah batuan. Meskipun proses pelapukan ini berlangsung lambat, karena telah berjalan dalam jangka waktu yang sangat lama maka di beberapa tempat telah terjadi pelapukan sangat tebal. Ada juga daerah-daerah yang hasil pelapukannya sangat tipis, bahkan tidak tampak sama sekali, hal ini terjadi sebagai akibat dari pemindahan hasil pelapukan pada tempat yang bersangkutan ke tempat lain. Tanah yang kita kenal ini adalah merupakan hasil pelapukan batuan.
     2. Gerakan massa batuan (mass wasting)
Mass wasting yaitu perpindahan atau gerakan massa batuan atau tanah yang ada di lereng oleh pengaruh gaya berat atau gravitasi atau kejenuhan massa air. Ada yang menganggap masswasting itu sebagai bagian dari pada erosi dan ada pula yang memisahkannya. Hal ini mudah difahami karena memang sukar untuk dipisahkan secara tegas, karena dalam erosi juga gaya berat batuan itu turut bekerja.
3. Erosi
Erosi adalah suatu proses geomorfologi, yaitu proses pelepasan dan terangkutnya material bumi oleh tenaga geomorfologis baik kekuatan air, angin, gletser atau gravitasi. Faktor yang mempengaruhi erosi tanah antara lain sifat hujan, kemiringan lereng dari jaringan aliran air, tanaman penutup tanah, dan kemampuan tanah untuk menahan dispersi dan untuk menghisap kemudian merembeskan air kelapisan yang lebih dalam.
4. Sedimentasi atau Pengendapan
Sedimentasi adalah proses penimbunan tempat-tempat yang lekuk dengan bahan-bahan hasil erosi yang terbawa oleh aliran air, angin, maupun gletser (Suhadi Purwantara, 2005:74). Sedimentasi tidak hanya terjadi dari pengendapan material hasil erosi saja, tetapi juga dari proses mass wasting. Namun kebanyakan terjadi dari proses erosi. Sedimentasi terjadi karena kecepatan tenaga media pengangkutnya berkurang (melambat). Berdasarkan tenaga alam yang mengangkutnya sedimentasi dibagi atas : Sedimentasi air sungai (floodplain dan delta), air laut, angin, dan geltsyer.

Contoh Satuan Bentuklahan Bentukan Asal Denudasional
  1. Perbukitan Sisa Terpisah (inselberg) : apabila bagian depan (dinding) pegunungan/perbukitan mundur akibat proses denudasi dan lereng kaki bertambah lebar secara terus menerus akan meninggalkan bentuk sisa dengan lereng dinding yang curam. Bukit sisah terpisah atau inselberg tersebut berbatu tanpa penutup lahan (barerock) dan banyak singkapan batuan (outcrop). Kenampakan ini dapat terjadi pada pegunungan/perbukitan terpisah maupun pada sekelompok pegunungan/perbukitan, dan mempunyai bentuk membulat. Apabila bentuknya relative memanjang dengan dinding curam tersebut monadnock. 
  2. Kerucut Talus (Talus cones) atau kipas koluvial (coluvial van) : mempunyai topografi berbentuk kerucut/kipas dengan lereng curam (350). Secara individu fragmen batuan bervariasi dari ukuran pasir hingga blok, tergantung pada besarnya cliff dan batuan yang hancur. Fragmen berukuran kecil terendapkan pada bagian atas kerucut (apex) sedangkan fragmen yang kasar meluncur ke bawah dan terendapkan di bagian bawah kerucut talus.




Sumber :
http://udhnr.blogspot.com
http://geoenviron.blogspot.com/2011/12/geomorfologi-bentuklahan-denudasional.html&docid=XNoUWqyHO0feQM&imgurl=https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFDUp1N35aRe4Krchk80Isqq1yzf_TV4uRJvLEPihbUedIAKj4RuEf4kkV-vbvWIGn1smWrKgKSMshatduFAEmmvgqXw8xJWD4HOCJGKR_QbGuW_faDxiFOd0dtnB7-NRLh_E1Y3DVl-Kf/s1600/BadLands2.jpg&w=1024&h=768&ei=dbbPUYHgAYarrAfB74CgAQ&zoom=1&ved=1t:3588,r:0,s:0,i:76&iact=rc&page=1&tbnh=168&tbnw=217&start=0&ndsp=15&tx=147&ty=46

PENAFSIRAN CITRA FOTO UDARA

Penginderaan jauh adalah suatu ilmu dan teknik untuk memperoleh data dan informasi tentang obyek dan gejala menggunakan alat tanpa kontak langsung denga obyek yang dikaji. (Hartono, 2004). Dalam penginderaan jauh terdapat interpretasi data baik itu berupa citra atau foto udara. Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut. Data pengindaran jauh berupa data digital dan data visual (manual). Dalam Interpretasi citra dilakukan melalui 6 tahap yaitu 


  •      Deteksi adalah penyadapan data secara selektif atas objek dan elemen dari citra.
  •      Indentifikasi adalah proses penemukenali objek yang akan dikaji.
  •     Proses analisis atau pemisahan dengan penarikan garis batas kelompok objek atau elemen yang memiliki kesamaan wujud.
  •    Deduksi yaitu proses yang sangat rumit yang dilakukan berdasarkan asas Konvergensi Bukti yaitu penggunaan bukti-bukti yang masing-masing saling mengarah ke satu titik simpul
  •      Klasifikasi yaitu dilakukan untuk menyusun objek dan elemen ke dalam sistem yang teratur
  •      Idealisasi yaitu : penggambaran hasil interpretasi tersebut.
Penginderaan jauh sistem foto udara memanfaatkan teknik stereoskopis ini untuk mendapatkan informasi turunan dari serangkaian data foto udara seperti ketinggian, jarak, volume dan lain-lain. Melalui stereoskop ini, obyek-obyek yang terdapat pada area tampalan foto akan nampak seperti gambar tiga dimensi yang dapat diukur ketinggian atau kedalaman obyek tersebut.
Pandangan tiga dimensi dari hasil pengamatan stereoskopis ini muncul dalam otak sebagai akibat adanya perpaduan dua gambar dengan sudut pandang yang berbeda. Masing-masing mata pengamat (observer) akan mendapatkan informasi dari gambar yang berada dibawahnya. Informasi dari kedua gambar tersebut diterima oleh otak manusia dan diterjemahkan sebagai gambar yang tiga dimensi. Serangkaian foto udara akan nampak menjadi tampilan tiga dimensi dalam proses pengamatan stereoskopis jika :
• Foto udara tersebut memiliki tampalan
• Gambar dari foto udara tersebut memiliki sudut pengambilan yang berbeda dalam satu jalur terbang yang sama
• Foto yang diamati hendaklah memiliki skala yang sama

Penafsiran Foto Udara

Interpretasi foto udara merupakan kegiatan menganalisa citra foto udara dengan maksud untuk mengidentifikasi dan menilai objek pada citra tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip interpretasi. Interpretasi foto merupakan salah satu dari macam pekerjaan fotogrametri yang ada sekarang ini. Interpretasi foto termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek. Dengan kata lain interpretasi foto merupakan kegiatan yang mempelajari bayangan foto secara sistematis untuk tujuan identifikasi atau penafsiran objek.
Interpretasi foto biasanya meliputi penentuan lokasi relatif dan luas bentangan. Interpretasi akan dilakukan berdasarkan kajian dari objek-objek yang tampak pada foto udara. Keberhasilan dalam interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan latihan dan pengalaman penafsir, kondisi objek yang diinterpretasi, dan kualitas foto yang digunakan. Penafsiran foto udara banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu dalam memperoleh informasi yang digunakan. Aplikasi fotogrametri sangat bermanfaat diberbagai bidang Untuk memperoleh jenis-jenis informasi spasial diatas dilakukan dengan teknik interpretasi foto/citra,sedang referensi geografinya diperoleh dengan cara fotogrametri. Interpretasi foto/citra dapat dilakukan dengan cara konvensional atau dengan bantuan komputer.Salah satu alat yang dapat digunakan dalam interpretasi konvensional adalah stereoskop dan alat pengamatan paralaks yakni paralaks bar.

Kunci Penafsiran Citra

Dalam melakukan interpretasi suatu objek atau fenomena digunakan sejumlah kunci dasar interpretasi atau elemen dasar interpretasi. Dengan karakteristik dasar citra foto dapat membantu serta membedakan penafsiran objek – objek yang tampak pada foto udara. Berikut tujuh karakteristik dasar citra foto yaitu :
1.      Bentuk
Bentuk berkaitan dengan bentuk umum, konfigurasi atau kerangka suatu objek individual. Bentuk agaknya merupakan faktor tunggal yang paling penting dalam pengenalan objek pada citrta foto.
2.      Ukuran
Ukuran objek pada foto akan bervariasi sesuai denagn skala foto. Objek dapat disalahtafsirkan apabila ukurannya tidak dinilai dengan cermat.
3.      Pola
Pola berkaitan susunan keruangan objek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau keterkaitan merupakan karakteristik banyak objek, baik alamiah maupun buatan manusia, dan membentuk pola objek yang dapat membantu penafsir foto dalam mengenalinya.
4.      Rona
Rona mencerminkan warna atau tingkat kegelapan gambar pada foto.ini berkaitan dengan pantulan sinar oleh objek.
5.      Bayangan
Bayangan penting bagi penafsir foto karena bentuk atau kerangka bayangan menghasilkan suatu profil pandangan objek yang dapat membantu dalam interpretasi, tetapi objek dalam bayangan memantulkan sinar sedikit dan sukar untuk dikenali pada foto, yang bersifat menyulitkan dalam interpretasi.
6.      Tekstur
Tekstur ialah frekuensi perubahan rona dalam citra foto. Tekstur dihasilkan oleh susunan satuan kenampakan yang mungkin terlalu kecil untuk dikenali secara individual dengan jelas pada foto. Tekstur merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan rona individual. Apabila skala foto diperkecil maka tekstur suatu objek menjadi semakin halus dan bahkan tidak tampak.
7.      Lokasi
Lokasi objek dalam hubungannya dengan kenampakan lain sangat bermanfaat dalam identifikasi. Kunci interpretasi citra pada umunya dapat berupa potongan citra yang telah diinterpretasi, diyakinkan kebenarannya, dan diberi keterangan sebelumnya. Keterangan pada kunci interpretasi ini dapat berupa :
• Jenis obyek yang digambarkan
• Unsur interpretasi yang digunakan

Sumber

Monday, January 28, 2013

FOTOGRAMETRI

Pada era informasi seperti sekarang ini, perkembangan teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis semakin pesat. Perkembangan tersebut ditandai oleh perkembangan sensor (kamera, scanner, hingga hyperspectral). Pengelolaan dan penanganan data, maupun keragaman aplikasinya. (Hartono, 2004). Salah satu aplikasi dari penginderaan jauh dalah pada bigang ilmu fotogrametri. Fotogrametri ialah ilmu, seni dan teknologi untuk memperoleh ukuran terpercaya dari foto udara. (Kiefer, 1993).
Dari pengertian tersebut obyek yang dikaji adalah kenampakan dari foto udara dengan menginterpretasinya menggunakan sistem penginderaan jauh. Akan tetapi analisis fotogrametri dapat berkisar dari pengukuran jarak, luas dan elevansi dengan alat atau teknik, sampai menghasilkan berupa peta topografik. (Kiefer, 1993).
Fotogrametri adalah suatu seni, pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh data dan informasi tentang suatu obyek serta keadaan di sekitarnya melalui suatu proses pencatatan, pengukuran dan interpretasi bayangan fotografis (hasil pemotretan). Bedasarkan definisi tersebut, maka pekerjaan fotogrametri dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
·  Metric fotogrametri, suatu pengukuran yang sangat teliti dengan hitungan-hitungannya untuk menentukan ukuran dan bentuk suatu objek.
·  Intrepretasi fotogrametri, kegiatan-kegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek.
Penginderaan jauh adalah suatu ilmu dan teknik untuk memperoleh data dan informasi tentang obyek dan gejala menggunakan alat tanpa kontak langsung denga obyek yang dikaji. (Hartono, 2004). Dalam penginderaan jauh terdapat interpretasi data baik itu berupa citra atau foto udara. Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut. Data pengindaran jauh berupa data digital dan data visual (manual). Dalam Interpretasi citra dilakukan melalui 6 tahap yaitu :
  •      Deteksi adalah penyadapan data secara selektif atas objek dan elemen dari citra. 
  •     Indentifikasi adalah proses penemukenali objek yang akan dikaji.
  •     Proses analisis atau pemisahan dengan penarikan garis batas kelompok objek atau elemen yang memiliki kesamaan wujud. 
  •    Deduksi yaitu proses yang sangat rumit yang dilakukan berdasarkan asas Konvergensi Bukti yaitu penggunaan bukti-bukti yang masing-masing saling mengarah ke satu titik simpul 
  •     Klasifikasi yaitu dilakukan untuk menyusun objek dan elemen ke dalam sistem yang teratur 
  •     Idealisasi yaitu : penggambaran hasil interpretasi tersebut 

Konsep Dasar Pemetaan Fotogrametri
Pengadaan data geo-spasial dalam rangka pemetaan suatu daerah / kawasan antara lain dapat dilakukan melalui metode :
  • Terestrial ( pengukuran langsung di lapangan )
  • Fotogrametri ( pemotretan udara )
  • Penginderaan Jauh
  • GPS
Fotogrametri adalah suatu metode pemetaan objek-objek dipermukaan bumi yang menggunakan foto udara sebagi media, dimana dilakukan penafsiran objek dan pengukuran geometri untuk selanjutnya dihasilkan peta garis, peta digital maupun peta foto. Secara umum fotogrametri merupakan teknologi geo-informasi dengan memanfaatkan data geo-spasial yang diperoleh melalui pemotretan udara. Mengapa metode fotogrametri banyak dipakai dalam pembuatan geo-informasi ? karena :
  • Obyek yang terliput terlihat apa adanya
  • Produk dapat berupa : peta garis , peta foto atau kombinasi peta foto-peta garis
  • Proses pengambilan data geo-spatial relatif cepat
· Efektif untuk cakupan daerah yang relatif luas
Sebagai bahan dasar dalam pembuatan geo-informasi secara fotogrametris yaitu foto udara yang saling bertampalan (overlaped foto). Umumnya foto tersebut diperoleh melalui pemotretan udara pada ketinggian tertentu menggunakan pesawat udara.

Skala Foto Udara
Pengertian skala foto udara adalah perbandingan jarak pada foto udara dengan jarak di permukaan bumi
Penentuan skala:
S = f/H
Keterangan :
S : skala                                                                       f : panjang fokus lensa
h : tinggi


Sumber :

FORAMINIFERA BESAR

Bentos adalah organisme yang hidup di dasar perairan (substrat) baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Bentos hidup di pasir, lumpur, batuan, patahan karang atau karang yang sudah mati. Substrat perairan dan kedalaman mempengaruhi pola penyebaran dan morfologi fungsional serta tingkah laku hewan bentik. Hal tersebut berkaitan dengan karakteristik serta jenis makanan bentos.

Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos. Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar (Allard and Moreau, 1987); APHA, 1992). Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan (Lind, 1985).

Pengertian
Istilah foram besar diberikan untuk golongan foram bentos yang memiliki ukuran relatif besar, jumlah kamar relatif banyak, dan struktur dalam kompleks. Umumnya foram besar banyak dijumpai pada batuan karbonat khususnya batugamping terumbu dan biasanya berasosiasi dengan alga yang menghasilkan CaCO3 untuk tes foram itu sendiri.

Di Indonesia foraminifera bentos besar sangat banyak ditemukan dan bisa digunakan untuk menentukan umur relatif batuan sedimen dengan menggunakan zonasi foraminifera bentos besar berdasarkan Adams (1970).



 Perkembangan Foram Besar di Indonesia
Foraminifera bentos besar mulai aktif dipelajari di Indonesia sejak tahun 1925. Pioner-pionernya antara lain :
  • Van der Vlerk & Umbgrove
  • Rutten 
  • Hohler
  • Tan Sin Hok
  • Adam
  • Hanzawa & Abe
Dalam perkembangannya di Indonesia banyak dikembangkan oleh Vlerk & Umbgrove (1972) yaitu mengklasifikasi umur foram berdasar klasifikasi huruf. Klasifikasi ini sangat populer karena menggunakan huruf-huruf (Ta-Tb), klasifikasinya sangat terbuka, cukup didasarkan pada genus-genus foraminifera besar saja. Selain itu juga ada klasifikasi huruf oleh Adam (1970,1984).

Klasifikasi Foraminifera Besar
Ordo foraminifera ini memiliki bentuk yang lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya. Sebagian besar hidup didasar laut degan kaki semu dan tipe Letuculose, juga ada yang hidup di air tawar, seperti family Allogromidae. Memiliki satu kamar atau lebih yang dipisahkan oleh sekat atau septa yang disebut suture . aperture terletak pada permukaan septum kamar terakhir. Hiasan pada permukaan test ikut menentukan perbedaan tiap–tiap jenis. Foraminifera besar bentonik baik digunakan untuk penentu umur. Pengamatan dilakukan degan mengunakan sayatan tipis vertikal, horizontal, atau, miring di bawah miroskop. Pemberian sitematik foraminifera bentonik besar yang umum ( A. Chusman, 1927):

Famili Discocyclidae
a.   Genus Aktinocyclina : kenampakan luar bulat, tidak berbentuk bintang, di jumpai rusak – rusak yang memancar.
b. Genus Asterocyclina : kenampakan luar seperti bintang polygonal, dijumpai rusak – rusak radier.
c.   Genus Discocyclina : kenampakam luar merupakan lensa, kadang bengkok menyerupai lensa, kadang bengkok menyerupai pelana, kelilingnya bulat degan/ tanpa tonggak – tonggak.

Famili Camerinidae
a.    Genus Asslina : kenampakan luar pipih (lentukuler) discoidal, test besar ukuran 2 – 50 mm, di jumpai tonggak – tonggak.
b.    Genus Cycloclypeus : kenampakan luar seperti lensa dan kamar sekunder yang siku – siku terlihat dari luar.
c.    Genus Nummulites : kenampakan luar seperti lensa, terputar secara planispiral, hanya putaran terluar yang terlihat, pada umumnya licin.

Famili Alveolinelliadae
a.    Genus Alveolina : kenampakan luar berbentuk telur/slllips (fusiform), panjang kurang lebih 1 cm.
b.    Genus Alveolinella : bentuk sama degan Alveolina panjang sumbunya 0,5 – 1,5 cm serta ada suatu kanal (pre septa). Celah – celahnya tersusun menjadi 3 baris dan tersusun bergantian, tetapi sambung menyambung.

Famili Miogpsinidae
a.      Genus Miogypsian : kenampakan luar terbentuk segitiga, lonjong hingga bulat, kadang seperti bintang/pligonal, permukaan papilliate, sering di jumpai tongkak.
b.      Genus Miogypsinoides ; kenampakan luar terbentuk segitiga, lonjong dan kulit luarnya datar.

Famili Calcarinidae
a.    Genus Biplanispira : kenampakan luar pipih hingga seperti lensa, discoidal, hampir bilateral simetri dengan/tanpa tonggak.
b.   Genus Pellatispira : kenampakan luar seperti lensa (lentikuler) dan bulat sering dijumpai tonggak.

Famili Orbitoididae
a.  Genus Lepidocyclina : kenampakan seperti lensa (lentiluler) pipih cembung, discoidal, permukaan test papilate, halus reticulate, pinggirnya bisa bulat, kadang seperti batang atau polygonal.

Kegunaan Foraminifera Besar
Kegunaan foraminifera bentos besar dalam geologi sangat banyak, antara lain seperti :
  • Menentukan umur relatif batuan sedimen menggunakan biozonasi foraminifera bentos besar.
  • Menentukan lingkungan pengendapan batuan sedimen.

Kesimpulan
Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Dalam perkembangannya di Indonesia banyak dikembangkan oleh Vlerk & Umbgrove (1972) yaitu mengklasifikasi umur foram berdasar klasifikasi huruf. Kegunaan foram bentos besar dalam dunia geologi yaitu untuk menentukan umur relatif batuan sedimen dengan menggunakan bozonasi foram besar, menentukan lingkungan pengendapan.
      
Sumber


SABO

            Nama sabo berasal dari bahasa Jepang. Sa berarti pasir, sedangkan bo berarti pengendalian. Dam sabo lebih kurang berarti bendungan pengendali pasir atau material vulkanik. Secara teknis, dam sabo adalah bangunan mengambang (fondasi dangkal) yang tersusun secara seri dalam satu kesatuan sistem penanggulangan sungai. Pada satu badan sungai ada lebih dari satu dam sabo.
Teknologi Sabo atau lebih populer dengan sebutan Tekno Sabo adalah teknologi untuk mencegah terjadinya bencana sedimen dan mempertahankan daerah hulu terhadap kerusakan lahan. Tujuan dari pembangunan prototipe Sabo dam adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh bangunan prototipe sabo dam terhadap pengurangan sedimentasi waduk, karena fungsi dari sabo dam adalah untuk menahan, menampung dan mengendalikan sedimen. Semula, teknologi ini dipergunakan untuk mengendalikan material lahar gunung api.
Kondisi alur sungai awal pasca pembangunan sabo dam perlu diketahui, dan secara berkala bentuk alur ini diamati perubahan-perubahannya, utamanya setelah terjadi banjir, sehingga dapat diketahui perubahan dasar sungai (riverbed fluctuation) dari waktu ke waktu, maka volume sedimen yang mengendap pada alur sungai dapat dihitung dan selanjutnya dapat dipakai sebagai dasar untuk memperkirakan pengaruh pembangunan sabo dam terhadap pengurangan sedimentasi waduk.

Dasar Pemikiran Penggunaan Tekno Sabo untuk Pengendalian Sedimentasi Waduk

Untuk memberikan salah satu solusi kepada semua pemangku kepentingan, terutama kepada pengelola waduk, Balai Besar Wilayah Sungai, pemerintah daerah tentang bagaimana teknologi sabo dapat diterapkan sebagai salah satu alternatif untuk mengendalikan aliran sedimen yang berasal dari erosi lahan dan sumber lain yang terangkut masuk ke waduk dengan :
·         Evaluasi kinerja prototipe sabodam tipe tertutup untuk mengendalikan angkutan sedimen
·     Analisa hidrologi model petak pengukuran erosi lahan dan analisa hidrologi model DAS pengukuran angkutan sedimen, apabila dimasa mendatang model tersebut telah dapat dibuat.

Jenis Sabo
Salah satu jenis dam sabo adalah dam konsolidasi yang berfungsi sebagai penahan. Dam sabo jenis ini biasanya terletak di paling hulu sungai jalur aliran lahar. Dam ini merupakan perisai pertama penahan aliran lahar panas untuk mengurangi risiko kerusakan.
Dam lain adalah jenis check dam atau dam pengendali. Fungsi dam ini adalah untuk menampung material lahar, terutama material berukuran besar, seperti batu. Karena itu, sabo jenis ini biasa disebut kantong lahar.
Selain dua jenis dam sabo tersebut, terdapat dam sabo jenis groundsill. Fungsinya adalah untuk menyetabilkan dasar sungai sesuai yang direncanakan. Groundsill yang diletakkan di dasar sungai, misalnya, dimaksudkan menambah kedalaman sungai. Adapun groundsill yang diletakkan lebih tinggi dari dasar sungai dimaksudkan untuk meninggikan dasar sungai. Fungsi groundsill sering terganggu aktivitas penambangan pasir di sekitarnya.

Prinsip Kerja
Daerah Aliran Sungai ( DAS ) Waduk merupakan suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah, dimana air akan mengalir melalui sungai utama dan anak-anak sungai yang terletak di dalam wilayah DAS tersebut. Secara alami air mengalir dari hulu ke hilir sesuai hukum gravitasi. Waduk serbaguna diharapkan dapat bermanfaat maksimal selama kurun waktu yang direncanakan, oleh karena itu perlu diupayakan pengurangan laju sedimentasi waduk. Terdapat tiga metode dasar untuk mengurangi laju sedimentasi waduk ( WMO, 948) :
1.      Mengurangi volume sedimen yang masuk waduk dapat dilakukan dengan cara :
·         mereduksi erosi DAS hulu waduk
·         menangkap sedimen sebelum memasuki waduk
2.    Memindahkan endapan sedimen dari dalam waduk dengan cara pengerukan, menggelontor, dan lain lain
3.      Membilas aliran yang membawa sedimen untuk menurunkan volume sedimen yang mengendap
Untuk menanggulangi meningkatnya laju sedimentasi di waduk perlu dilakukan usaha pencegahan dari terjadinya erosi atau terangkutnya material oleh aliran air sungai dari bagian hulu. Ada dua sumber sedimen yang terangkut oleh anak-anak sungai yaitu material dasar yang membentuk dasar sungai dan material yang datangnya dari tebing-tebing sungai yang longsor. Sehingga dalam studi ini usaha umtuk memperkecil alngkutan sedimen yang masuk di waduk direncanakan dengan membuat fasilitas bangunan sabo. Dipilihnya fasilitas bangunan sabo karena meterial yang ada di sungai-sungai tersebut di atas merupakan material yang berupa pasir, kerikil, dan batu-batuan (krakal).


Sumber
http://jcpoweryogyakarta.blogspot.com/2009/01/sabo-dam.html
http://machmudjunus.files.wordpress.com/2009/05/sabo2.jpg
            http://rumahpengetahuan.web.id/dam-sabo-penahan-lahar/



KONOSKOP DAN OTHOSKOP

Pengenalan  mineral yang terdapat pada batuan umumnya secara mikroskopis dilakukan dengan pertolongan mikroskop polarisasi. Mikroskop demikian berbeda dengan mikroskop yang dipakai dalam penyeledikan biologi.
Batuan yang akan di selediki itu sebelum disayat menjadi tipis, diletakan dengan Balsam Kanada pada sebuah kaca tipis. Batuan yang telah diletakan pada kaca ini kemudian ditipiskan hingga mencapai ketebalan kurang lebih 0.03 mm. untuk mencegah agar batuan yang telah di tipiskan tidak rusak maka ditutup dengan kaca penutup.

Pengamatan Secara Orthoskop
·         Nikol Sejajar
Setiap mineral memiliki sistem kristalnya masing-masing: isometrik; triklin; monoklin; tetragonal, heksagonal dan lain-lain. Setiap sistem kristal memiliki sumbu kristal, walaupun sudut yang dibentuk oleh masing-masing sumbu kristal antara sistem kristal yang satu terhadap yang lain berbeda. Untuk itulah setiap mineral memiliki sifat optis tertentu, yang dapat diamati pada posisi sejajar atau diagonal terhadap sumbu panjangnya (sumbu c). Pengamatan mikroskopis yang dilakukan pada posisi sejajar sumbu panjang disebut pengamatan pada nikol sejajar.
Relief
Relief adalah sifat optis mineral atau batuan yang menunjukkan tingkat / besarnya pantulan yang diterima oleh mata (pengamat). Semakin besar sinar yang dipantulkan atau semakin kecil sinar yang dibiaskan oleh lensa polarisasi, maka makin rendah reliefnya, begitu pula sebaliknya. Jadi, relief mineral berhubungan erat dengan sifat indek biasnya; Ngelas & Nobyek. Relief mineral dapat digunakan untuk memisahkan antara batas tepi mineral yang satu dengan yang lain. Namun, suatu mineral memiliki indeks bias yang lebih rendah dibandingkan kaca / air / udara, sehingga reliefnya lebih tinggi.
Pleokroisme
Yaitu sifat penyusupan mineral anisotropic dalam menyerap sinar mengikuti sistem kristalografinya. Ditunjukkan oleh beberapa kali perubahan warna kristal setelah diputar hingga 360O. Dapat diamati pada posisi terpolarisasi maupun nikol sejajar
Bentuk Kristal atau Mineral
Bentuk kristal adalah bentuk suatu kristal mineral mengikuti pertumbuhan / tata aturan pertumbuhan kristal. Bentuk kristal yang ideal pasti mengikuti susunan atom dan pertumbuhan atom-atom tersebut, atau dapat pula mengikuti arah belahannya. Sebagian besar mineral yang terbentuk oleh proses pembekuan magma di luar, menunjukkan bentuk kristal yang tidak sempurna, karena pembekuannya / pengkristalisasiannya sangat cepat sehingga bentuknya kurang sempurna, begitu pula sebaliknya. Jadi, bentuk kristal dapat digunakan sebagai parameter untuk mengetahui tingkat kristalisasi mineral secara umum.
Belahan
Belahan adalah sifat mineral yang berhubungan dengan sistem kristalnya juga. Pada umumnya, suatu mineral memiliki bentuk kristal dari suatu sistem kristal tertentu, sesuai dengan pertumbuhan kristalnya. Pertumbuhan kristal sendiri dibentuk / dibangun oleh susunan atom di dalamnya. Dengan demikian, sisi-sisi susunan atom-atom tersebut menjadi lebih lemah dibandingkan dengan ikatannya. Hal itu berpengaruh pada tingkat kerapuhannya. Saat mineral mengalami benturan / terdeformasi, maka pecahannya akan lebih mudah mengikuti arah belahannya.
Pecahan
Pecahan adalah kecenderungan suatu mineral untuk hancur atau pecah secara tidak beraturan. Suatu mineral ada yang memiliki pecahan dan belahan, namun ada juga yang hanya memiliki pecahan saja.
Warna absorbsi, Ukuran MineralIndeks bias

·         Nikol Silang

     A.    Sifat Birefringence (BF)
Standardisasi sayatan tipis memiliki ketebalan 0,03 mm. Dalam sayatan tipis, interference mineral harus dapat diamati, yang hanya dapat dalam sayatan tipis 0,03 mm. Warna interference dapat dilihat dari posisi horizontal sayatan. Setelah warna interference diketahui, pengamatan dilanjutkan melalui garis diagonalnya hingga didapatkan sifat birefringence (BF). Dari posisi birefringence, dengan meluruskan ke bawah melalui garis diagonal ke perpotongannya, akan diketahui ketebalan standarnya, apakah lebih tebal atau tidak dari 0,03 mm. Orde warna interferensi dan birefringence menggunakan tabel warna Michel-Levy.

     B.     Sifat Kembaran (Twinning)
Yaitu sifat yang ditunjukkan oleh mineral akibat pertumbuhan bersama kristal saat pengkristalannya. Berbentuk kisi-kisi yang dibentuk oleh orientasi pertumbuhan kristalografi. Sifat ini dapat diamati pada posisi pengamatan nikol silang. Berhubungan dengan sifat pemadamannya.

     C.     Sudut Pemadaman (Extinction)
Adalah fungsi hubungan orientasi indikatrik dan orientasi kristalografik. Mineral anisotropik menunjukkan gelapan pada posisi nikol silang dengan rotasi tiap 90o. Gelapan muncul ketika kedudukan salah satu vibrasi sejajar polarizer bawah. Dampaknya adalah seluruh sinar datang ditahan oleh polarizer atas sehingga tidak membentuk getaran. Seluruh sinar yang melalui mineral terserap pada polarizer atas, dan mineral terlihat gelap.

     D.    Orientasi Optik
Menggunakan istilah Substraksi dan Adissi dalam pengamatannya, dan dalam pengamatan tersebut juga digunakan istilah length fast dan length slow.

Pengamatan Konoskop
            Pengamatan konoskop adalah pengamatan sayatan mineral dengan cahaya yang mengerucut. Pengamatan ini berfungsi untuk mengetahui kenampakan gambar interfrensi yang meliputi isogire, isofase, dan melatope. Tujuan dari pengamata secara konoskop yaitu:
·         Untuk mengetahui arah sayatan
·         Menentukan sumbu optik (uniaxial atau biaxial)
·         Menentukan tanda optik (positif atau negatif)
·         Menentukan sudut sumbu optis (2V)

      a.      Sumbu Optis Satu (Uniaxial)
Terdapat pada mineral dengan sistem kristal hexagonal, trigonal, dan tetragonal yang memiliki dua sumbu indikatrik. Tanda negatif (-) ditandai dengan sinar extraordinary lebih cepat ketimbang sinar ordinary. Sedangkan tanda ositif (+) sinar extraordinary lebih lambat ketimbang sinar ordinary.

      b.      Pengamatan Sumbu Optis Dua (Biaxial)
Terdapat pada mineral dengan sistem kristal orthorombik, monoklin, dan triklin dengan tiga sumbu indikatrik yaitu X (Sinar Optis), Y (Sinar Intermediet), dan Z (Sinar Lambat).
Tanda positif (+) terjadi bila sumbu indikatrik sinar Z berhimpit dengan garis bagi sudut lancip (BSL) dan sumbu indikatrik sinar X berhimpit dengan garis bagi tsudut tumpul (BST). Sedangkan tanda negatif (-) terjadi bila sumbu indikatrik sinar Z berhimpit dengan garis bagi sudut tumpul (BST) dan sumbu indikatrik sinar X berhimpit dengan garis bagi sudut lancip (BSL).         


Sumber :
            Laporan Mineralogi Optik IST Akprind Yogyakarta (Delio Manuel)
            http://google.com/konoskop/
            http://google.com/orthoskop/