Senin, 28 Januari 2013

Konoskop & Orthoskop


PERBEDAAN PENGAMATAN KONOSKOP DENGAN PENGAMATAN ORTHOSKOP

Pengenalan  mineral yang terdapat pada batuan umumnya secara mikroskopis dilakukan dengan pertolongan mikroskop polarisasi. Mikroskop demikian berbeda dengan mikroskop yang dipakai dalam penyeledikan biologi.
Batuan yang akan di selediki itu sebelum disayat menjadi tipis, diletakan dengan Balsam Kanada pada sebuah kaca tipis. Batuan yang telah diletakan pada kaca ini kemudian ditipiskan hingga mencapai ketebalan kurang lebih 0.03 mm. untuk mencegah agar batuan yang telah di tipiskan tidak rusak maka ditutup dengan kaca penutup.

Pengamatan Secara Orthoskop
·         Nikol Sejajar
Setiap mineral memiliki sistem kristalnya masing-masing: isometrik (sumbu a = sumbu b = sumbu c; <a = <b = <g); rhombik (sumbu a ¹ sumbu b ¹ sumbu c; <a ¹ <b ¹ <g); triklin; monoklin; tetragonal, heksagonal dan lain-lain. Setiap sistem kristal memiliki sumbu kristal, walaupun sudut yang dibentuk oleh masing-masing sumbu kristal antara sistem kristal yang satu terhadap yang lain berbeda. Untuk itulah setiap mineral memiliki sifat optis tertentu, yang dapat diamati pada posisi sejajar atau diagonal terhadap sumbu panjangnya (sumbu c). Pengamatan mikroskopis yang dilakukan pada posisi sejajar sumbu panjang disebut pengamatan pada nikol sejajar.
  1. Relief
Relief adalah sifat optis mineral atau batuan yang menunjukkan tingkat / besarnya pantulan yang diterima oleh mata (pengamat). Semakin besar sinar yang dipantulkan atau semakin kecil sinar yang dibiaskan oleh lensa polarisasi, maka makin rendah reliefnya, begitu pula sebaliknya. Jadi, relief mineral berhubungan erat dengan sifat indek biasnya; Ngelas < Nobyek. Relief mineral dapat digunakan untuk memisahkan antara batas tepi mineral yang satu dengan yang lain. Namun, suatu mineral memiliki indeks bias yang lebih rendah dibandingkan kaca / air / udara, sehingga reliefnya lebih tinggi.
  1. Pleokroisme
Yaitu sifat penyusupan mineral anisotropic dalam menyerap sinar mengikuti sistem kristalografinya. Ditunjukkan oleh beberapa kali perubahan warna kristal setelah diputar hingga 360O. Dapat diamati pada posisi terpolarisasi maupun nikol sejajar.
  1. Bentuk Kristal atau Mineral
Bentuk kristal adalah bentuk suatu kristal mineral mengikuti pertumbuhan / tata aturan pertumbuhan kristal. Bentuk kristal yang ideal pasti mengikuti susunan atom dan pertumbuhan atom-atom tersebut, atau dapat pula mengikuti arah belahannya. Sebagian besar mineral yang terbentuk oleh proses pembekuan magma di luar, menunjukkan bentuk kristal yang tidak sempurna, karena pembekuannya / pengkristalisasiannya sangat cepat sehingga bentuknya kurang sempurna, begitu pula sebaliknya. Jadi, bentuk kristal dapat digunakan sebagai parameter untuk mengetahui tingkat kristalisasi mineral secara umum.
  1. Belahan
Belahan adalah sifat mineral yang berhubungan dengan sistem kristalnya juga. Pada umumnya, suatu mineral memiliki bentuk kristal dari suatu sistem kristal tertentu, sesuai dengan pertumbuhan kristalnya. Pertumbuhan kristal sendiri dibentuk / dibangun oleh susunan atom di dalamnya. Dengan demikian, sisi-sisi susunan atom-atom tersebut menjadi lebih lemah dibandingkan dengan ikatannya. Hal itu berpengaruh pada tingkat kerapuhannya. Saat mineral mengalami benturan / terdeformasi, maka pecahannya akan lebih mudah mengikuti arah belahannya.
e.       Pecahan
Pecahan adalah kecenderungan suatu mineral untuk hancur atau pecah secara tifak beraturan. Suatu mineral ada yang memiliki pecahan dan belahan, namun ada juga yang hanya memiliki pecahan saja.
f.       Warna absorbsi
g.      Ukuran Mineral
h.      Indeks bias
·         Nikol Silang
A.    Sifat Birefringence (BF)
Standardisasi sayatan tipis memiliki ketebalan 0,03 mm. Dalam sayatan tipis, interference mineral harus dapat diamati, yang hanya dapat dalam sayatan tipis 0,03 mm. Warna interference dapat dilihat dari posisi horizontal sayatan. Setelah warna interference diketahui, pengamatan dilanjutkan melalui garis diagonalnya hingga didapatkan sifat birefringence (BF). Dari posisi birefringence, dengan meluruskan ke bawah melalui garis diagonal ke perpotongannya, akan diketahui ketebalan standarnya, apakah lebih tebal atau tidak dari 0,03 mm. Orde warna interferensi dan birefringence menggunakan tabel warna Michel-Levy.
B.     Sifat Kembaran (Twinning)
Yaitu sifat yang ditunjukkan oleh mineral akibat pertumbuhan bersama kristal saat pengkristalannya. Berbentuk kisi-kisi yang dibentuk oleh orientasi pertumbuhan kristalografi. Sifat ini dapat diamati pada posisi pengamatan nikol silang. Berhubungan dengan sifat pemadamannya.
C.     Sudut Pemadaman (Extinction)
Adalah fungsi hubungan orientasi indikatrik dan orientasi kristalografik. Mineral anisotropik menunjukkan gelapan pada posisi nikol silang dengan rotasi tiap 90O. Gelapan muncul ketika kedudukan salah satu vibrasi sejajar polarizer bawah. Dampaknya adalah seluruh sinar datang ditahan oleh polarizer atas sehingga tidak membentuk getaran. Seluruh sinar yang melalui mineral terserap pada polarizer atas, dan mineral terlihat gelap.
D.    Orientasi Optik
Menggunakan istilah Substraksi dan Adissi dalam pengamatannya, dan dalam pengamatan tersebut juga digunakan istilah length fast dan length slow.
Pengamatan Konoskop
            Pengamatan konoskop adalah pengamatan sayatan mineral dengan cahaya yang mengerucut. Pengamatan ini berfungsi untuk mengetahui kenampakan gambar interfrensi yang meliputi isogire, isofase, dan melatope.
            Tujuan dari pengamata secara konoskop yaitu:
·         Untuk mengetahui arah sayatan
·         Menentukan sumbu optik (uniaxial atau biaxial)
·         Menentukan tanda optik (positif atau negatif)
·         Menentukan sudut sumbu optis (2V)
a.      Sumbu Optis Satu (Uniaxial)
Terdapat pada mineral dengan sistem kristal hexagonal, trigonal, dan tetragonal yang memiliki dua sumbu indikatrik. Tanda negatif (-) ditandai dengan sinar extraordinary lebih cepat ketimbang sinar ordinary. Sedangkan tanda ositif (+) sinar extraordinary lebih lambat ketimbang sinar ordinary.

b.      Pengamatan Sumbu Optis Dua (Biaxial)
Terdapat pada mineral dengan sistem kristal orthorombik, monoklin, dan triklin dengan tiga sumbu indikatrik yaitu X (Sinar Optis), Y (Sinar Intermediet), dan Z (Sinar Lambat).
Tanda positif (+) terjadi bila sumbu indikatrik sinar Z berhimpit dengan garis bagi sudut lancip (BSL) dan sumbu indikatrik sinar X berhimpit dengan garis bagi tsudut tumpul (BST). Sedangkan tanda negatif (-) terjadi bila sumbu indikatrik sinar Z berhimpit dengan garis bagi sudut tumpul (BST) dan sumbu indikatrik sinar X berhimpit dengan garis bagi sudut lancip (BSL).         


Sumber :
            Laporan Mineralogi Optik IST Akprind Yogyakarta (Delio Manuel)
            http://google.com/konoskop/
            http://google.com/orthoskop/

2 komentar: