Showing posts with label geologi. Show all posts
Showing posts with label geologi. Show all posts

Thursday, April 4, 2019

GENESA BASALT

Bumi ini tersusun oleh berbagai macam jenis batuan, salah satunya batuan beku. Batuan ini memiliki persebaran kebanyakan di bawah permukaan, sedangkan di atas permukaan didominasi oleh batuan sedimen. Batuan beku memiliki resistensi sangat tinggi dibandingkan batuan lainnya, sehingga singkapan (outcrop) sangat mudah dikenali. Batuan beku tersebar di zona subduksi - zona pemekaran (mid oceanic ridge). Zona divergen didominasi oleh batuan beku basa dengan kandungan silika  45-52%. Salah satu produk dari zona ini yaitu basalt. Batuan ini terbentuk dari pembekuan magma dekat permukaan atau di permukaan bumi.

PEMBENTUKKAN BASALT

Sumber gambar : Basaltic Magma

Basalt sebagian besar terbentuk pada kerak samudra, namun di beberapa kondisi juga ditemukan pada kerak benua. Pada kerak samudra, magma menerobos ke permukaan melalui celah atau rekahan atau zona lemah langsung ke permukaan. Hasilnya berupa gunung api bawah laut sampai jejeran gunung api di permukaan laut (contohnya G.Kilauea). Batuan ini cenderung memiliki struktur vesikuler yaitu lubang-lubang akibat pelepasan gas yang begitu cepat. Selain itu struktur columnar joint (akibat pembekuan magma mengikuti rekahan-rekahan dan membentuk kolom) dan sheeting joint (terbentuk karena pembekuan magmamengikuti rekahan atau pola kelurusan dan kemiringan lapisan batuan di sekitarnya) juga menjadi ciri dari basalt ini. 


Sumber gambar : Columnar Joint


Sumber gambar : Sheeting Joint

Basalt tersusun atas mineral-mineral mafik seperti sedikit olivin dan mulai banyak piroksin. Mineral plagioklas juga terdapat pada batuan ini jenis anortit-labradorit. Mineral pada basalt berukuran halus jadi perlu bantuan lup apabila ingin mengetahui komposisi detail tapi beberapa mineral seperti piroksen dan plagioklas masih bisa terlihat kasat mata. Basalt yang berstruktur vesikuler mampu meloloskan air dengan baik, sehingga mata air yang melewati batuan ini cenderung mengandung banyak mineral. 

Sumber gambar : Basalt vesikuler


Sumber gambar : Basalt pada sayatan tipis

Pemanfaatan basalt bisanya untuk bahan tambahan dalam pembuatan struktur bangunan. Selain itu basalt juga sering digunakan untuk dekorasi halaman rumah maupun dinding rumah. Teksturnya yang halus dan berwarna gelap sangat sering dipadukan untuk dekorasi dinding rumah maupun lantai halaman rumah. Bila dihaluskan sampai ukuran sangat halus maka bisa digunakan untuk campuran glasir pada keramik. hasilnya akan cenderung berwarna hitam-coklat kehitaman.

Thursday, December 27, 2018

GENESA ANDESIT

Beberapa orang yang berkecimpung di bidang kebumian, pertambangan atau perminyakan setidaknya pernah mendengar istilah ini. Andesit, merupakan produk pembekuan dari magma yang sangat panas di bawah maupun permukaan bumi. Bagaimana genesa batuan ini? Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan informasi mengenai batuan beku bernama "Andesit".

Asal-Usul

Semua batuan beku terbentuk dari hasil pembekuan magma yang ada di bawah maupun permukaan bumi (baca Jenis Batuan di Bumi). Magma menerobos dan membeku secara intrusif dan ekstrusif. Batuan beku intrusif terbentuk jauh di bawah permukaan bumi dan memiliki ciri mineral pembentuknya berukuran besar atau kasar dan gampang dideskripsi dengan mata telanjang. Hal ini dikarenakan pembentukan mineral terjadi sangat lambat sehingga kesempatan mineral terbentuk secara sempurna lebih besar. Sedangkan untuk batuan beku ekstrusif membeku dengan cepat hampir mendekati permukaan bumi sehingga mineral pembentuknya cenderung halus dan perlu bantuan lup apabila melakukan deskripsi di lapangan.


Sumber gambar : Planet Earth

Proses Pembentukan Andesit

Andesit yang tergolong batuan beku intermediet, terbentuk dari hasil pembekuan magma dengan kandungan silika 55-62%. Kandungan mineral yang terdapat pada andesit sebagian besar kumpulan mineral piroksin dan hornblende dalam discontinous bowen series, plagioklas, sebagian kuarsa, mineral feldspar dan sebagian kecil biotit. Andesit merupakan batuan beku khas yang dominan ditemukan pada zona subduksi yang dicirikan oleh busur pegunungan api. Pada gambar di atas terdapat ekstrusive igneous rock, andesit terbentuk mendekati permukaan terutama zona gunung api/vulkanik. Contoh mudahnya kita temukan pada deretan gunung api aktif di Pulau Jawa dari barat sampai timur hampir rata-rata menghasilkan batuan andesit, sehingga batuan ini sangat khas menjadi penciri produk dari zona subduksi. 



Sumber gambar : GeologyIn

Deskripsi dan Kegunaan Andesit

Nama batuan (andesit), jenis batuan (batuan beku intermediet esktrusif/vulkanik), struktur batuan (masif), derajat kristalisasi (hipokristalin), granuralitas (fanerik sedang-halus), bentuk kristal (euhedral-subhedral), hubungan antar kristal (equigranular-hipidiomorf). 

Deskripsi di atas sebagai contoh sederhana dalam melakukan analisis batuan batuan beku di lapangan. Tahapan selanjutnya apabila ingin mengetahui lebih jelas komposisi mineral maka harus dilakukan analisis sayatan tipis petrografi. Hal ini bertujuan agar detail komposisi mineral yang terkandung dalam batuan dapat teridentifikasi dengan baik sehingga tidak salah dalam memberikan nama batuan di dalam dunia Geologi. Andesit sangat banyak digunakan dalam kehidupan manusia terutama untuk bahan baku perkuatan struktur bangunan, jalan hingga dijadikan deokorasi rumah. Selain karena warnanya yang cenderung agak gelap-keabuan juga kekuatan batuannya yang cukup kuat menyebabkan andesit sering digunakan oleh para praktisi di bidang teknik sipil maupun dekorasi.


Semoga artikel kali ini bermanfaat untuk kalian semua dan ingat komen dan share artikel ini apabila menarik dan menambah wawasan kalian. 😄


Tuesday, December 11, 2018

PALEONTOLOGI DAN FOSIL

Apakah itu paleontologi? 🙋




Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan zaman lampau atau purba, berasal dari kata paleos yang berarti lampau/purba dan logos yang berarti ilmu. Secara garis besar paleontologi mempelajari kehidupan masa lampau atau purba yang terawetkan dalam bentuk fosil. Fosil inilah yang akan digunakan untuk mengidentifikasi sejarah atau kehidupan masa lalu seperti apa. 

Fosil adalah sisa atau jejak organisme mati yang terawetkan. Artinya, apapun itu dari tubuh organisme, baik seluruh maupun sebagian dan jejak atau aktivitas organisme apabila terawetkan dalam batuan, maka disebut dengan fosil. Namun, tidak semuanya kita bisa sebut dengan fosil. Ada beberapa syarat dikatakan sebagai fosil, antara lain:
  1. Memiliki bagian tubuh yang keras atau bisa terawetkan.
  2. Setelah organisme mati segera terendapkan sedimen halus.
  3. Terbebas dari bakteri pengurai/pembusukan (oksigen minim).
  4. Berumur lebih dari 10.000 tahun.
Cara mengetahui umur fosil? Secara garis besar umur fosil dan batuan bisa diidentifikasi melalui 2 metode, yaitu 

1. Metode Radiometric Dating

Metode radiometric dating merupakan metode yang menitikberatkan pada perhitungan perbandingan unsur tertentu pada sampel atau spesimen fosil kemudian dibandingkan dengan unsur yang sama pada atmosfir dengan prinsip waktu paruh waktu peluruhan atom. Ada beberapa unsur yang bisa digunakan dalam menghitung waktu paruh oleh para peneliti fosil atau batuan, yaitu unsur karbon (C) untuk fosil dengan umur kurang dari 50.000 tahun, dan kalium-argon (K-Ar) untuk fosil berumur 50.000 - 5.000.000 tahun, sedangkan untuk fosil yang berumur lebih dari 5 juta tahun seperti trilobita dan dinosaurus menggunakan metode fission track dating. 

Sumber gambar : zonareferensi

2. Metode Stratigrafi

Korelasi stratigrafi berhubungan dengan prinsip atau hukum Nicolas Steno tahun 1669. Prinsip ini ada 4 yang utama, yaitu:

Hukum Superposisi

Hukum superposisi adalah hukum yang menyatakan lapisan batuan yang paling bawah berumur paling tua dibandingkan lapisan batuan yang berada di atasnya. Artinya apabila ada fosil yang terendapkan di lapisan "a", maka umurnya akan lebih tua dibandingkan fosil dilapisan "b" dan "c" prinsip ini juga tercerminkan dalam hukum Faunal Succesion

Hukum Horizontal

Hukum horizontal adalah hukum yang menyatakan bahwa dalam kondisi normal, lapisan batuan sedimen akan diendapkan rata atau horizontal. Artinya, fosil yang terawetkan pun akan mengikuti posisi pengendapan atau pengawetan mendekati horizontal atau sejajar. 

Hukum Kesinambungan Lateral 

Hukum kesinambungan lateral adalah hukum yang menyatakan bahwa semua lapisan sedimen akan berlanjut terendapkan secara berkesinambungan dan hanya akan berakhir pada sisi atau tepi cekungan atau pengendapan. Untuk lebih mudahnya, apabila kalian membuat rainbow cake dengan loyang kue, maka lapisan kue pertama dan selanjutnya akan habis adonannya pada ujung loyang, bila kue sudah jadi dan kalian makan disisi tengahnya, maka sebelum dimakan kue tersebut menyambung atau berkesinambungan.


Hukum Cross Cutting

Hukum cross cutting adalah hukum yang menyatakan bahwa batuan atau lapisan yang memotong akan lebih muda dibandingkan dengan lapisan atau batuan yang dipotong. Untuk lebih mudah memahami, berikut ilustrasinya.

Sumber gambar : Mr. Mulroy's Earth Science


Nah, pembahasan tadi semoga memberikan kalian gambaran tentang paleontologi dan fosil. Semoga bermanfaat dan ingat share dan komen apabila artikel ini menarik bagi kalian. 😇

Sunday, October 28, 2018

MENGENAL FORMASI BULU

Pengertian Formasi

Formasi adalah satuan keseragaman atau ciri-ciri litologi yang nyata, baik terdiri dari satu macam jenis batuan, perulangan dari dua jenis batuan atau lebih. Formasi dapat tersingkap dipermukaan, berkelanjutan ke bawah permukaan atau seluruhnya di bawah permukaan. Formasi haruslah mempunyai nilai startigrafi yang memiliki daerah cukup luas dan lazimnya dapat dipetakan pada skala 1 : 25.000 (IAGI, 1996)


Formasi Bulu



Formasi Bulu adalah salah satu formasi yang terdapat pada Cekungan Jawa Timur Utara, Subzona Rembang menurut Pringgoprawiro (1983). Tersusun oleh batugamping berlapis baik yang kaya akan foraminifera besar dan batugamping pasiran fossiliferous (Sharaf, et.al.,2005). Pada batugampingnya dijumpai banyak foraminifera yang berukuran sangat besar dari spesies Cycloclypeus (Katacycloclypeus) annulatus, Lepidocyclina (N.) ngampelensis, Orbulina sp. dan Orbulina suturalis menurut Sharaf, et.al., (2005). Pringgoprawiro (1983) menggunakan nama Formasi Bulu sebagai nama resmi, dengan memasang lokasi tipe di Sungai Besek, dekat desa Bulu, Kabupaten Rembang.




Pada peta geologi lembar Rembang skala 1:100.000 (Kadar and Sudijono (1993), formasi ini melampar luas terutama di wilayah antiklonorium Rembang Utara. Formasi ini memiliki ketebalan berbeda-beda di setiap daerah tempat dia tersingkap, secara umum dari wilayah Madura dan Rembang memiliki ketebalan ± 200 meter sedangkan di Jatirogo ± 50 meter (Wilson, 2002). Kondisi litologi dan kandungan fosilnya menunjukkan bahwa Formasi Bulu diendapkan pada lingkungan pengendapan shelf margin/slope (Wilson, 2002) pada kala Miosen Tengah – Awal Miosen Akhir (N13–N15) berdasarkan kehadiran Cycloclypeus annulatus (Ardhana, et.al.,1993; Lunt, et.al.,2000, dalam Sharaf, et.al.,2005). Penelitian lain melaporkan Formasi Bulu diendapkan pada inner shelf beradasarkan kehadiran fosil bentonik Elphidium gunteri (Syawal, dkk.,2012).



Sumber :

Blow, W.H., 1969, Late Middle Eocene to Recent Planktonik Foraminifera Biostratigrafi Cont, Planktonic Microfosil, Geneva, 1967, Pro. Leiden, E.j.Bull, v.1.

IAGI, 1996, Sandi Stratigrafi Indonesia, Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia, IAGI, Bandung, 1-34
Kadar dan Sudijono, 1993, Peta Geologi Indonesia lembar Rembang, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Skala 1 : 100.000, Bandung, Indonesia

Pringgoprawiro, H., 1983, Biostratigrafi dan paleogeografi Cekungan Jawa Timur Utara, suatu pendekatan baru. Disertasi Doktor, ITB, Bandung

Sharaf, E.F., BouDagher-Fadel, M.K., Simo, J.A., and Carroll, A.R.. 2005, Biostratigraphy and strontium isotope dating of Oligocene-Miocene strata, East Java, Indonesia, Stratigraphy vol.2 no.3

Syawal, R., Maliki, J., Chrishartyanto, G.A., dan Guzman, D., 2012, Karakteristik Endapan Batugamping Formasi Bulu Pada Daerah Sukolilo dan Tambakromo, Pati, Jawa Tengah, Prosiding IAGI 2012-SS-41, Yogyakarta

Wilson, M.E.J., 2002, Cenozoic carbonates in Southeast Asia: implications for equatorial carbonate development, Elsevier, Sedimentary Geology 147, UK

Saturday, October 27, 2018

JENIS BATUAN DI BUMI

Pengertian Batuan

Batuan adalah sekumpulan mineral yang membentuk suatu padatan dan memiliki ciri khas tertentu. Mineral adalah sekumpulan senyawa atau unsur yang terbentuk akibat proses kimia/fisika/biologis dan membentuk ikatan serta berciri khas tertentu. Secara umum, batuan di bumi dibagi menjadi 3, yaitu

1. Batuan Beku

Batuan beku adalah batuan yang terbentuk akibat pembekuan magma yang ada di dalam bumi. Magma merupakan cairan pijar panas bersuhu lebih dari 1200 derajat celcius dan bersifat mobile. Ciri khas batuan beku yaitu mineral dan kristal yang terbentuk adalah unsur dan senyawa anorganik. Ukuran dari mineralnya mudah dilihat dengan mata biasa tanpa bantuan lup. Ada beberapa dasar dalam pembagian atau klasifikasi batuan beku. Berdasarkan kandungan SiO2, batuan beku diklasifikasikan menjadi empat, yaitu

  1. Batuan beku asam, mengandung SiO2 & > 66%, contohnya yaitu riolit, granit
  2. Batuan beku intermediet, mengandung SiO2 52-66%, contohnya andesit, diorit
  3. Batuan beku basa, mengandung SiO2 45-52%, contohnya basalt, gabro
  4. Batuan beku ultrabasa, mengandung SiO2 < 45%, contohnya dunit/peridotit


2. Batuan Sedimen

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari aktivitas sedimentasi fisik, kimiawi maupun biologis. Batuan sedimen (softrock) paling banyak tersebar di permukaan bumi secara singkapan (outcrop). Proses pelapukan, transportasi, sedimentasi, pelarutan, penguapan, dan dekomposisi adalah beberapa hal yang sanga berkaitan dengan batuan sedimen. Batuan sedimen yang terbentuk dari proses fisik mengalami proses mekanisme transportasi dari sumber ke cekungan atau lingkungan pengendapan, contohnya yaitu batupasir, batulempung. Batuan sedimen yang terbentuk secara kimiawi mengalami porses reaksi kimia seperti evaporasi dan pelarutan contohnya yaitu gipsum, travertin. Batuan sedimen yang terbentuk dari proses biologis melibatkan unsur organik atau aktivitas biologi, contohnya yaitu batubara, limestone



3. Batuan Metamorf

Batuan metamorf adalah jenis batuan yang bersumber dari batuan beku, batuan sedimen, ataupun dari batuan metamorf itu sendiri. Batuan metamorf terbentuk dari batuan induk atau asal yang mengalami proses tekanan dan/atau panas sehingga mengubah struktur dan tekstur batuan serta mineral asalnya. Batuan metamorf secara struktur dibagi menjadi struktur foliasi contohnya gneiss, sekis, slate, filit, dan lainnya yang menunjukan struktur berlapis, sedangkan non foliasi contohnya kuarsit, marmer dan lainnya yang tidak menunjukan kesan berlapis.



Sumber :

https://ptbudie.com/2012/04/11/struktur-dan-tekstur-batuan-metamorf/

https://lingkarankata.blogspot.com/2014/12/asal-usul-batuan-sedimen-bagian-1.html

https://www.geologinesia.com/2017/04/macam-macam-jenis-batuan-beku-dan-contohnya.html

sumber gambar diambil dari beberapa situs dicari via google search picture 




Thursday, July 20, 2017

APA ITU GEOLOGI?

Geologi adalah ilmu yang mempelajari  tentang bumi (baik itu proses pembentukan, dinamika yang terjadi waktu lampau maupun sekarang, hingga apa saja yang terkandung dan hasil dari dinamika proses tersebut).Geologi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani “geos” yang berarti bumi dan “logos” yang berarti ilmu. Berbicara masalah ilmu ini sangat kompleks karena selalu berhubungan dengan tiga ilmu utama yang didapat sewaktu di sekolah menengah, yaitu biologi, fisika, dan kimia.

Beberapa ilmu utama yang dipelajari dalam jurusan ini, antara lain:
  1. Kristalografi dan mineralogi adalah ilmu yang mempelajari mengenai bentuk dasar kristal dan mineral, pembentukan, serta kegunaannya dalam aplikasi disiplin ilmu lainnya.
  2. Petrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang proses pembentukan batuan secara fisik, kimia maupun biologi
  3. Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan/sisa mahkluk hidup yang terawetkan (terfosilkan)
  4. Stratigrafi adalah ilmu yang mempelajari tentang prinsip dasar pembentukan strata/lapisan batuan di bumi
  5. Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk/roman muka bumi hasil dinamika proses endogen maupun eksogen
  6. Geologi struktur adalah ilmu yang mempelajari tentang dinamika structural bumi dari proses sampai hasildari dinamika tersebut seperti lipatan dan patahan
  7. Geofisika adalah ilmu yang mempelajari sifat fisik bumi berdasarkan prinsip-prinsip dasar fisika seperti kemagnetan, gelombang dan sebagainya
  8. Geokimia adalah ilmu yang mempelajari sifat kimia bumi berdasarkan prinsip-prinsip kimia dasar seperti isotope, unsur, senyawa, dan sebagainya
  9. Geodesi adalah ilmu yang mempelajari pemetaan dan permodelan bawah maupun atas peermukaan bumi dengan prinsip-prinsip dasar matematika
  10. Hidrogeologi adalah ilmu yang mempelajari tentang siklus air di bawah maupun di permukaan bumi
  11. Vulkanologi adalah ilmu yang mempelajari tentang proses dan pembentukan gunung api serta mitigasi bencana gunung api
  12. Geologi teknik adalah ilmu yang mempelajari sifat fisik batuan dan hubungannya dengan aplikasi ke arah teknik sipil
Masih banyak lagi ilmu yang dipelajari dalam jurusan ini, beberapa yang disebutkan merupakan ilmu dasar yang digunakan nantinya dalam aplikasi di dunia kerja. Semakin mahir di salah satu bidang maka nilai jual di dunia kerja akan semakin tinggi. Sebagai contoh seperti seorang lulusan hukum yang ahli di bidang kenotariatan atau dokter yang ahli bedah syaraf.

Berbicara mengenai lapangan pekerjaan, tentu sangat luas apabila mau lebih dalam lagi mencari tahu. Untuk lulusan fresh graduate umumnya akan menjadi  karyawan di suatu perusahaan yang tentunya harapan di perusahaan bonafide. Secara umum akan bekerja pada bidang-bidang sebagai berikut:
  1. Geothermal & petroleum industry : industri yang paling banyak diminati para lulusan baru karena sangat menjanjikan dari segi salary, benefit, sampai jenjang karir. Lulusan baru rata-rata akan ditempatkan sebagai mudlogger, wellsite geologist, dan exploration geologist
  2. Mining & metal industry : industri yang sebagian besar banyak terdapat lulusan geologi karena sebagai pencari sumber daya alamnya. Lulusan baru rata-rata akan ditempatkan sebagai exploration geologist, mine geologist, dan mine planning engineer
  3. Pemerintahan : Kementerian ESDM, Pusat Survey dan Geologi, SKK Migas, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,
  4. Tenaga pendidik dan riset : dosen maupun guru sekolah menengah (dengan syarat terntentu), LIPI

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian 😉



Sumber :



Saturday, June 29, 2013

BENTUKAN ASAL DENUDASIONAL

Hasil pengerjaan dan proses utama pada lapisan utama kerak bumi akan meninggalkan kenampakan bentuk lahan tertentu disetiap roman muka bumi ini . Kedua proses ini adalah proses endogen (berasal dari dalam) dan proses eksogen (berasal dari luar). Perbedaan intensitas, kecepatan jenis dan lamanya salah satu atau kedua proses tersebut yang bekerja pada suatu daerah menyebabkan kenmapakan bentuk lahan disuatu daerah dengan daerah lain umumnya berbeda. Dilihat dari genesisnya (kontrol utama pembentuknya ), bentuk lahan dapat dibedakan menjadi
1.      Bentuk asal struktural
2.      Bentuk asal vulkanik
3.      Bentuk asal fluvial
4.      Bentuk asal marine
5.      Bentuk asal pelarutan karst
6.      Bentuk asal aeolen & glasial
7.      Bentuk asal denudasional 

Definisi Bentukan Asal Denudasional

Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga denudasi berarti proses penelanjangan permukaan bumi. Bentuk lahan asal denudasional dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk lahan yang terjadi akibat proses-proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass wating) dan proses pengendapan yang terjadi karena agradasi atau degradasi (Herlambang, Sudarno. 2004:42). Proses degradasi cenderung menyebabkan penurunan permukaan bumi, sedangkan agradasi menyebabkan kenaikan permukaan bumi. Ciri-ciri dari bentuk lahan yang asal terjadi secara denudasioanal, yaitu:
  1. Relief sangat jelas: lembah, lereng, pola aliran sungai.
  2. Tidak ada gejala struktural, batuan massif, dep/strike tertutup.
  3. Dapat dibedakan dengan jelas terhadap bentuk lain
  4. Relief lokal, pola aliran dan kerapatan aliran menjadi dasar utama untuk merinci satuan bentuk lahan
  5. Litologi menjadi dasar pembeda kedua untuk merinci satuan bentuk lahan. Litologi terasosiasi dengan bukit, kerapatan aliran,dan tipe proses.
Proses Terbentuknya Bentuk Lahan Asal Denudasional

Denudasi meliputi proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass wating) dan proses pengendapan/sedimentasi.
1. Pelapukan
Pelapukan (weathering) dari perkataan weather dalam bahasa Inggris yang berarti cuaca, sehingga pelapukan batuan adalah proses yang berhubungan dengan perubahan sifat (fisis dan kimia) batuan di permukaan bumi oleh pengaruh cuaca. Secara umum, pelapukan diartikan sebagai proses hancurnya massa batuan oleh tenaga Eksogen, menurut Olliver(1963) pelapukan adalah proses penyesaian kimia, mineral dan sifat fisik batuan terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Akibat dari proses ini pada batuan terjadi perubahan warna, misalnya kuning-coklat pada bagian luar dari suatu bongkah batuan. Meskipun proses pelapukan ini berlangsung lambat, karena telah berjalan dalam jangka waktu yang sangat lama maka di beberapa tempat telah terjadi pelapukan sangat tebal. Ada juga daerah-daerah yang hasil pelapukannya sangat tipis, bahkan tidak tampak sama sekali, hal ini terjadi sebagai akibat dari pemindahan hasil pelapukan pada tempat yang bersangkutan ke tempat lain. Tanah yang kita kenal ini adalah merupakan hasil pelapukan batuan.
     2. Gerakan massa batuan (mass wasting)
Mass wasting yaitu perpindahan atau gerakan massa batuan atau tanah yang ada di lereng oleh pengaruh gaya berat atau gravitasi atau kejenuhan massa air. Ada yang menganggap masswasting itu sebagai bagian dari pada erosi dan ada pula yang memisahkannya. Hal ini mudah difahami karena memang sukar untuk dipisahkan secara tegas, karena dalam erosi juga gaya berat batuan itu turut bekerja.
3. Erosi
Erosi adalah suatu proses geomorfologi, yaitu proses pelepasan dan terangkutnya material bumi oleh tenaga geomorfologis baik kekuatan air, angin, gletser atau gravitasi. Faktor yang mempengaruhi erosi tanah antara lain sifat hujan, kemiringan lereng dari jaringan aliran air, tanaman penutup tanah, dan kemampuan tanah untuk menahan dispersi dan untuk menghisap kemudian merembeskan air kelapisan yang lebih dalam.
4. Sedimentasi atau Pengendapan
Sedimentasi adalah proses penimbunan tempat-tempat yang lekuk dengan bahan-bahan hasil erosi yang terbawa oleh aliran air, angin, maupun gletser (Suhadi Purwantara, 2005:74). Sedimentasi tidak hanya terjadi dari pengendapan material hasil erosi saja, tetapi juga dari proses mass wasting. Namun kebanyakan terjadi dari proses erosi. Sedimentasi terjadi karena kecepatan tenaga media pengangkutnya berkurang (melambat). Berdasarkan tenaga alam yang mengangkutnya sedimentasi dibagi atas : Sedimentasi air sungai (floodplain dan delta), air laut, angin, dan geltsyer.

Contoh Satuan Bentuklahan Bentukan Asal Denudasional
  1. Perbukitan Sisa Terpisah (inselberg) : apabila bagian depan (dinding) pegunungan/perbukitan mundur akibat proses denudasi dan lereng kaki bertambah lebar secara terus menerus akan meninggalkan bentuk sisa dengan lereng dinding yang curam. Bukit sisah terpisah atau inselberg tersebut berbatu tanpa penutup lahan (barerock) dan banyak singkapan batuan (outcrop). Kenampakan ini dapat terjadi pada pegunungan/perbukitan terpisah maupun pada sekelompok pegunungan/perbukitan, dan mempunyai bentuk membulat. Apabila bentuknya relative memanjang dengan dinding curam tersebut monadnock. 
  2. Kerucut Talus (Talus cones) atau kipas koluvial (coluvial van) : mempunyai topografi berbentuk kerucut/kipas dengan lereng curam (350). Secara individu fragmen batuan bervariasi dari ukuran pasir hingga blok, tergantung pada besarnya cliff dan batuan yang hancur. Fragmen berukuran kecil terendapkan pada bagian atas kerucut (apex) sedangkan fragmen yang kasar meluncur ke bawah dan terendapkan di bagian bawah kerucut talus.




Sumber :
http://udhnr.blogspot.com
http://geoenviron.blogspot.com/2011/12/geomorfologi-bentuklahan-denudasional.html&docid=XNoUWqyHO0feQM&imgurl=https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFDUp1N35aRe4Krchk80Isqq1yzf_TV4uRJvLEPihbUedIAKj4RuEf4kkV-vbvWIGn1smWrKgKSMshatduFAEmmvgqXw8xJWD4HOCJGKR_QbGuW_faDxiFOd0dtnB7-NRLh_E1Y3DVl-Kf/s1600/BadLands2.jpg&w=1024&h=768&ei=dbbPUYHgAYarrAfB74CgAQ&zoom=1&ved=1t:3588,r:0,s:0,i:76&iact=rc&page=1&tbnh=168&tbnw=217&start=0&ndsp=15&tx=147&ty=46

PENAFSIRAN CITRA FOTO UDARA

Penginderaan jauh adalah suatu ilmu dan teknik untuk memperoleh data dan informasi tentang obyek dan gejala menggunakan alat tanpa kontak langsung denga obyek yang dikaji. (Hartono, 2004). Dalam penginderaan jauh terdapat interpretasi data baik itu berupa citra atau foto udara. Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut. Data pengindaran jauh berupa data digital dan data visual (manual). Dalam Interpretasi citra dilakukan melalui 6 tahap yaitu 


  •      Deteksi adalah penyadapan data secara selektif atas objek dan elemen dari citra.
  •      Indentifikasi adalah proses penemukenali objek yang akan dikaji.
  •     Proses analisis atau pemisahan dengan penarikan garis batas kelompok objek atau elemen yang memiliki kesamaan wujud.
  •    Deduksi yaitu proses yang sangat rumit yang dilakukan berdasarkan asas Konvergensi Bukti yaitu penggunaan bukti-bukti yang masing-masing saling mengarah ke satu titik simpul
  •      Klasifikasi yaitu dilakukan untuk menyusun objek dan elemen ke dalam sistem yang teratur
  •      Idealisasi yaitu : penggambaran hasil interpretasi tersebut.
Penginderaan jauh sistem foto udara memanfaatkan teknik stereoskopis ini untuk mendapatkan informasi turunan dari serangkaian data foto udara seperti ketinggian, jarak, volume dan lain-lain. Melalui stereoskop ini, obyek-obyek yang terdapat pada area tampalan foto akan nampak seperti gambar tiga dimensi yang dapat diukur ketinggian atau kedalaman obyek tersebut.
Pandangan tiga dimensi dari hasil pengamatan stereoskopis ini muncul dalam otak sebagai akibat adanya perpaduan dua gambar dengan sudut pandang yang berbeda. Masing-masing mata pengamat (observer) akan mendapatkan informasi dari gambar yang berada dibawahnya. Informasi dari kedua gambar tersebut diterima oleh otak manusia dan diterjemahkan sebagai gambar yang tiga dimensi. Serangkaian foto udara akan nampak menjadi tampilan tiga dimensi dalam proses pengamatan stereoskopis jika :
• Foto udara tersebut memiliki tampalan
• Gambar dari foto udara tersebut memiliki sudut pengambilan yang berbeda dalam satu jalur terbang yang sama
• Foto yang diamati hendaklah memiliki skala yang sama

Penafsiran Foto Udara

Interpretasi foto udara merupakan kegiatan menganalisa citra foto udara dengan maksud untuk mengidentifikasi dan menilai objek pada citra tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip interpretasi. Interpretasi foto merupakan salah satu dari macam pekerjaan fotogrametri yang ada sekarang ini. Interpretasi foto termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek. Dengan kata lain interpretasi foto merupakan kegiatan yang mempelajari bayangan foto secara sistematis untuk tujuan identifikasi atau penafsiran objek.
Interpretasi foto biasanya meliputi penentuan lokasi relatif dan luas bentangan. Interpretasi akan dilakukan berdasarkan kajian dari objek-objek yang tampak pada foto udara. Keberhasilan dalam interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan latihan dan pengalaman penafsir, kondisi objek yang diinterpretasi, dan kualitas foto yang digunakan. Penafsiran foto udara banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu dalam memperoleh informasi yang digunakan. Aplikasi fotogrametri sangat bermanfaat diberbagai bidang Untuk memperoleh jenis-jenis informasi spasial diatas dilakukan dengan teknik interpretasi foto/citra,sedang referensi geografinya diperoleh dengan cara fotogrametri. Interpretasi foto/citra dapat dilakukan dengan cara konvensional atau dengan bantuan komputer.Salah satu alat yang dapat digunakan dalam interpretasi konvensional adalah stereoskop dan alat pengamatan paralaks yakni paralaks bar.

Kunci Penafsiran Citra

Dalam melakukan interpretasi suatu objek atau fenomena digunakan sejumlah kunci dasar interpretasi atau elemen dasar interpretasi. Dengan karakteristik dasar citra foto dapat membantu serta membedakan penafsiran objek – objek yang tampak pada foto udara. Berikut tujuh karakteristik dasar citra foto yaitu :
1.      Bentuk
Bentuk berkaitan dengan bentuk umum, konfigurasi atau kerangka suatu objek individual. Bentuk agaknya merupakan faktor tunggal yang paling penting dalam pengenalan objek pada citrta foto.
2.      Ukuran
Ukuran objek pada foto akan bervariasi sesuai denagn skala foto. Objek dapat disalahtafsirkan apabila ukurannya tidak dinilai dengan cermat.
3.      Pola
Pola berkaitan susunan keruangan objek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau keterkaitan merupakan karakteristik banyak objek, baik alamiah maupun buatan manusia, dan membentuk pola objek yang dapat membantu penafsir foto dalam mengenalinya.
4.      Rona
Rona mencerminkan warna atau tingkat kegelapan gambar pada foto.ini berkaitan dengan pantulan sinar oleh objek.
5.      Bayangan
Bayangan penting bagi penafsir foto karena bentuk atau kerangka bayangan menghasilkan suatu profil pandangan objek yang dapat membantu dalam interpretasi, tetapi objek dalam bayangan memantulkan sinar sedikit dan sukar untuk dikenali pada foto, yang bersifat menyulitkan dalam interpretasi.
6.      Tekstur
Tekstur ialah frekuensi perubahan rona dalam citra foto. Tekstur dihasilkan oleh susunan satuan kenampakan yang mungkin terlalu kecil untuk dikenali secara individual dengan jelas pada foto. Tekstur merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan rona individual. Apabila skala foto diperkecil maka tekstur suatu objek menjadi semakin halus dan bahkan tidak tampak.
7.      Lokasi
Lokasi objek dalam hubungannya dengan kenampakan lain sangat bermanfaat dalam identifikasi. Kunci interpretasi citra pada umunya dapat berupa potongan citra yang telah diinterpretasi, diyakinkan kebenarannya, dan diberi keterangan sebelumnya. Keterangan pada kunci interpretasi ini dapat berupa :
• Jenis obyek yang digambarkan
• Unsur interpretasi yang digunakan

Sumber

Monday, January 28, 2013

FOTOGRAMETRI

Pada era informasi seperti sekarang ini, perkembangan teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis semakin pesat. Perkembangan tersebut ditandai oleh perkembangan sensor (kamera, scanner, hingga hyperspectral). Pengelolaan dan penanganan data, maupun keragaman aplikasinya. (Hartono, 2004). Salah satu aplikasi dari penginderaan jauh dalah pada bigang ilmu fotogrametri. Fotogrametri ialah ilmu, seni dan teknologi untuk memperoleh ukuran terpercaya dari foto udara. (Kiefer, 1993).
Dari pengertian tersebut obyek yang dikaji adalah kenampakan dari foto udara dengan menginterpretasinya menggunakan sistem penginderaan jauh. Akan tetapi analisis fotogrametri dapat berkisar dari pengukuran jarak, luas dan elevansi dengan alat atau teknik, sampai menghasilkan berupa peta topografik. (Kiefer, 1993).
Fotogrametri adalah suatu seni, pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh data dan informasi tentang suatu obyek serta keadaan di sekitarnya melalui suatu proses pencatatan, pengukuran dan interpretasi bayangan fotografis (hasil pemotretan). Bedasarkan definisi tersebut, maka pekerjaan fotogrametri dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
·  Metric fotogrametri, suatu pengukuran yang sangat teliti dengan hitungan-hitungannya untuk menentukan ukuran dan bentuk suatu objek.
·  Intrepretasi fotogrametri, kegiatan-kegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek.
Penginderaan jauh adalah suatu ilmu dan teknik untuk memperoleh data dan informasi tentang obyek dan gejala menggunakan alat tanpa kontak langsung denga obyek yang dikaji. (Hartono, 2004). Dalam penginderaan jauh terdapat interpretasi data baik itu berupa citra atau foto udara. Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut. Data pengindaran jauh berupa data digital dan data visual (manual). Dalam Interpretasi citra dilakukan melalui 6 tahap yaitu :
  •      Deteksi adalah penyadapan data secara selektif atas objek dan elemen dari citra. 
  •     Indentifikasi adalah proses penemukenali objek yang akan dikaji.
  •     Proses analisis atau pemisahan dengan penarikan garis batas kelompok objek atau elemen yang memiliki kesamaan wujud. 
  •    Deduksi yaitu proses yang sangat rumit yang dilakukan berdasarkan asas Konvergensi Bukti yaitu penggunaan bukti-bukti yang masing-masing saling mengarah ke satu titik simpul 
  •     Klasifikasi yaitu dilakukan untuk menyusun objek dan elemen ke dalam sistem yang teratur 
  •     Idealisasi yaitu : penggambaran hasil interpretasi tersebut 

Konsep Dasar Pemetaan Fotogrametri
Pengadaan data geo-spasial dalam rangka pemetaan suatu daerah / kawasan antara lain dapat dilakukan melalui metode :
  • Terestrial ( pengukuran langsung di lapangan )
  • Fotogrametri ( pemotretan udara )
  • Penginderaan Jauh
  • GPS
Fotogrametri adalah suatu metode pemetaan objek-objek dipermukaan bumi yang menggunakan foto udara sebagi media, dimana dilakukan penafsiran objek dan pengukuran geometri untuk selanjutnya dihasilkan peta garis, peta digital maupun peta foto. Secara umum fotogrametri merupakan teknologi geo-informasi dengan memanfaatkan data geo-spasial yang diperoleh melalui pemotretan udara. Mengapa metode fotogrametri banyak dipakai dalam pembuatan geo-informasi ? karena :
  • Obyek yang terliput terlihat apa adanya
  • Produk dapat berupa : peta garis , peta foto atau kombinasi peta foto-peta garis
  • Proses pengambilan data geo-spatial relatif cepat
· Efektif untuk cakupan daerah yang relatif luas
Sebagai bahan dasar dalam pembuatan geo-informasi secara fotogrametris yaitu foto udara yang saling bertampalan (overlaped foto). Umumnya foto tersebut diperoleh melalui pemotretan udara pada ketinggian tertentu menggunakan pesawat udara.

Skala Foto Udara
Pengertian skala foto udara adalah perbandingan jarak pada foto udara dengan jarak di permukaan bumi
Penentuan skala:
S = f/H
Keterangan :
S : skala                                                                       f : panjang fokus lensa
h : tinggi


Sumber :